Tips mendidik anak

Posted on February 29, 2012

0


Trik Hadapi Bayi Emosional

Foto: Ferdi

Tangisan Tomi (5 bulan) sering bikin panik orangtuanya. ”Tangisannya itu bisa menyihir kami untuk menghentikan aktivitas dan dengan tergopoh-gopoh mendekatinya. Padahal, penyebabnya paling cuma popok yang basah. Duh, bikin deg-degan saja. Bahkan, pernah hanya karena dia bosan main sendirian di boks, lalu ia meronta-ronta sambil menangis keras,” cerita Ida tentang buah hatinya.

Apakah si kecil Anda mirip Tomi? Tangisannya keras, sulit dibujuk, dan kerap disertai perilaku meronta-ronta. Dalam piskologi, itulah ciri-ciri bayi yang memiliki emosi berlebihan, terutama bayi di bawah 6 bulan. Ditambah lagi, tidurnya juga gelisah. Sedangkan, pada bayi yang lebih besar (9–12 bulan)— dimana kemampuan motorik halus dan kasarnya sudah semakin baik—tampak ciri sangat aktif bergerak dan bila marah suka membuang-buang barang. Ia pun suka berteriak-teriak bila keinginannya tidak terpenuhi.

Jangan kaget, bisa umumnya bayi emosional ini memiliki temperamen sulit (difficult child ) atau tak mudah menyesuaikan diri (slow to warm up ). Ini berkaitan erat dengan emosinya yang mudah naik turun (moody ).

Bayi dengan temperamen sulit akan rewel bila bertemu dengan orang yang tak dikenal dan menimbulkan rasa takut, lingkungannya dirasa tidak nyaman, atau keinginannya tidak terpenuhi. Mengapa sampai muncul sifat sepeti itu? Salah satunya karena faktor genetik. Jadi harap maklum bila ada pepatah air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Orangtua yang mudah meledak-ledak, bisa jadi bayinya kelak akan memiliki karakter yang (hampir) sama. Untuk itu, tak ada salahnya bila kita melakukan refleksi diri, apakah memang selama ini kita mudah bersikap emosional atau tidak.

TIDAK SELALU GANGGUAN

Namun tak perlu khawatir, pada bayi di bawah 6 bulan, emosi seperti ini bukanlah suatu gangguan alias masih tergolong wajar. Mengapa? Karena ia memang belum mampu mengungkapkan keinginannya sehingga menangis merupakan satu-satunya cara ia berkomunikasi. Semakin tak dipahami, tangisannya akan semakin keras ditambah perilaku meronta-ronta tentunya, dan itu normal saja.

Justru di sinilah dituntut kepekaan dari orangtuanya. Karena hanya orangtualah yang mengerti keinginan si kecil. Apakah mungkin ia menangis karena kebutuhan makannya yang belum tercukupi, haus, merasa tidak nyaman karena popok basah, atau mungkin ia ke-gerahan? Bila penyebabnya diketahui dan segera dipenuhi, umumnya emosi bayi pun dapat dikendalikan.

Selanjutnya, jika emosi yang berlebihan ini bertahan hingga bayi berusia lebih dari 6 bulan, maka bersikaplah waspada. Semestinya sikap emosional sudah lebih jarang muncul karena bayi telah mengenal lingkungannya dengan (lebih) baik. Apalagi bila tangisannya yang keras itu tidak ada penyebab pastinya; misal ia tidak sedang sakit, tidak lapar, tidak haus, popoknya tidak basah, sebaiknya orangtua mengonsultasikan hal ini pada ahli untuk mendeteksi apakah ada gangguan pada bayi atau tidak.

BISA DIMINIMALKAN

Nah, menangani bayi yang memiliki karakter sulit memang perlu kesabaran ekstra. Ada beberapa trik untuk menghadapinya. Namun pada intinya cara-cara ini adalah untuk memenuhi kebutuhan emosinya, kenyamanan dan keamanannya.

1. Berikan pelukan dan belaian sayang.

Namun, cermati dulu penyebab tangis sang bayi. Bila ia menangis lantaran popoknya yang basah, ia tentu tidak perlu pelukan. Yang ia butuhkan adalah kita mengganti popok basah tersebut dengan popok kering. Nah, bila ia menangis lantaran bosan atau mengantuk, pelukan dan belaian sayang mampu menimbulkan rasa aman dan nyaman padanya. Dengan kata lain, pelukan dan belaian memang dibutuhkan bayi.

2. Lebih peka akan kebutuhan bayi.

Orangtua hendaknya lebih peka akan kebutuhan bayi. Perhatian yang tulus dan pemahaman kita akan kebutuhan bayi, akan mampu mengendalikan emosi bayi agar tidak berlebihan. Bila kebutuhannya telah terpenuhi, niscaya bayi akan menjadi lebih tenang.

3. Mengalihkan perhatian.

Ketika bayi sedang meledak-ledak emosinya, cobalah untuk mengalihkan perhatian. Umpama, dengan mengajaknya melakukan aktivitas yang dapat menarik perhatiannya, mengajak bayi bermain umumnya akan berhasil merebut perhatiannya. Bila emosinya sudah mereda, berikan pelukan sayang yang menenangkan hatinya.

4. Bermain cermin.

Permainan ini dapat dikenalkan pada bayi usia 6 bulan ke atas. Melalui permainan ini bayi dapat mengenal beragam emosi. Seperti tertawa, menangis, marah, dan lainnya. Perlihatkan beragam mimik tersebut padanya dan sampaikan bahwa ia tak perlu berteriak-teriak atau menangis dengan meronta-ronta (tunjukkan wajah yang tengah seperti orang menangis kejer) karena itu tidak baik.

5. Membaca buku atau mendongeng.

Melalui dongeng, setidaknya kita dapat menyampaikan pesan moral yang dapat terekam dalam memorinya. Pilihkan tema tentang perilaku yang baik dan tidak baik. Contoh, si Srigala yang suka berteriak-teriak sehingga dijauhi teman-temannya

Posted in: Keluarga