Persiapan menghadapi persalinan

Posted on February 29, 2012

0


7 Persiapan Persalinan

Foto: Getty Images

Baby Blues Akibat Trauma

Baby blues merupakan gangguan yang sering sekali terjadi pasca kelahiran dan menurut Gozali, berdasarkan penelitian, 50 persen ibu mengalami baby blues dengan pengalaman medis yang berbeda. Penyebabnya antara lain perasaan kecewa yang timbul saat kehamilan. Bisa datang karena suami atau keluarga yang tidak perhatian atau persalinan yang tidak sesuai harapan karena pengetahuannya yang kurang. Meski demikian, ada juga ibu yang mengikuti tujuh tips tadi namun tetap saja terserang baby blues. Ini biasanya disebabkan hormon yang fluktuatif atau mungkin sebelum hamil, Si Ibu punya riwayat depresi dan emosional yang terganggu.

Cara mengatasi baby blues sebenarnya mudah saja. Si Penderita jangan menyimpan perasaan kecewa, takut, dan sedih sendirian. Terbukalah dan bicarakan masalah ini dengan orang terdekat seperti suami, orangtua, adik perempuan, atau lainnya.

Jika sudah dibantu tapi sindrom baby blues-nya semakin parah, ini berarti ibu mengalami postnatal depression yang setingkat lebih parah dari baby blues. Sindrom ini menyerang pikiran ibu untuk melakukan hal ekstrim. Misalnya, keinginan untuk melukai bayinya atau diri sendiri, suka berhalusinasi, atau sampai berusaha membunuh bayinya atau bunuh diri. Penanganannya pun lebih serius dan dokter kandungan wajib merujuk ke psikiater. “Meski jarang terjadi, tapi ada di medical literature,” pungkas Gozali.

Memahami Komplikasi

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, ciri-ciri partum sesuai urutan adalah pendarahan kecil, kontraksi, dan pecahnya air ketuban. Kalau ibu mengalami “show” terlebih dulu dan ada lendir darah, artinya pembukaan sudah terjadi. “Mucus sudah keluar. Proses selanjutnya kontraksi, lalu air ketuban pecah.” Meski demikian, Gozali menerangkan, proses ini tidak selalu terjadi berurutan. “Ada juga yang “show” dulu, baru ketuban pecah atau kontraksi. Hal ini normal juga. Kalau air ketuban Si Ibu pecah, bukan berarti air ketubannya habis lantas harus di-caesar. Sebenarnya bisa ditunggu sampai Si Ibu tidak kontraksi lagi,” tambah Gozali.

Di luar ciri-ciri tadi, Anda juga harus waspada kemungkinannya ada komplikasi di dalam rahim ibu. Yaitu pendarahan yang banyak, nyeri berlebihan (bukan kontraksi) di bagian perut, air ketuban pecah dan berwarna hijau. “Kalau cuma nyeri kontraksi atau ketuban pecah, itu normal. Air ketuban yang pecah pun harus jernih, jangan hijau. Kalau sampai hijau, itu berarti bayinya sudah pup (buang air besar, Red.) di dalam. It is not good. Itu sudah harus cepet-cepet dibawa ke rumah sakit,” jelas Gozali.

Gozali juga menyarankan agar ibu hamil yang sudah mengalami kontraksi untuk menghitung jangka waktu kontraksinya. Ketika intervalnya lebih pendek, biasanya rasa nyerinya lebih tinggi dan ini adalah pertanda bagi Si Ibu untuk segera ke rumah sakit.

Posted in: Kesehatan