Malam pertama

Posted on February 29, 2012

0


Bersikap Bijak Di Malam Pertama

Ilustrasi

Buat banyak pasangan, malam pertama sering jadi masalah atau malah membawa petaka. Terlebih bila pengetahuan seksual masing-masing masih nol alias buta soal seks.

Kalau masa kecil si pengantin wanita “bersih” dari trauma, bukan tidak mungkin petaka di malam pertama tadi justru menjadi trauma awal yang membuatnya mengalami gangguan vaginismus. Terlebih bila trauma tadi tidak disikapi secara bijak.

Dengan pertimbangan itulah, konsultan seks DR. Ferryal Loetan, SpRM, MMR  menganggap pentingnya pendidikan seks yang berkelanjutan sejak dini. Yakni sejak anak mulai menaruh perhatian khusus pada hal-hal yang berbau seksual. Misalnya saat mandi bersama orang tua yang berjenis kelamin sama, si anak bertanya.

“Pak, ‘burung’ saya kecil. Kok, punya Bapak besar dan ada bulunya?” Kalau pertanyaan semacam itu sampai terucap oleh balita,tandanya ia perlu mendapat penjelasan dari orang tuanya.

Toh, penjelasannya tak perlu kelewat detail yang hanya akan membuat anak bingung. Cukup jawab sesuai kebutuhan anak saat itu dan tingkat kecerdasan si anak. Umpamanya,”Nanti kalau kamu sudah besar juga seperti ini.”

Sebagai orang tua kita pun mesti mampu bersikap terbuka jika suatu saat anak akan mempertanyakan hal yang sama, namun membutuhkan penjelasan lebih detail sesuai dengan perkembangan daya pikirnya. Yang pantang dilakukan adalah meng-cut  pertanyaan anak, semisal, “Hus, enggak boleh tanya-tanya begitu! Enggak sopan!”

Sikap langsung memotong ini justru akan membuat anak penasaran yang akhirnya mendorongnya mencari tahu ke sumber-sumber lain. Padahal, sumber tadi justru kemungkinan besar tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kita juga yang repot, kan?

Posted in: Keluarga